Rafael "Rafa" Benítez Maudes
Benítez memulai karier sepak bola dengan bergabung dengan akademi sepak bola
Real Madrid. Ia kemudian bermain sebagai pemain profesional pada beberapa klub di
Segunda División, sambil mengambil kuliah di fakultas olahraga Universidad Politécnica de Madrid hingga meraih gelar di bidang pendidikan jasmani pada tahun 1982. Benítez bergabung dengan staf kepelatihan Real Madrid saat berusia 26 tahun, dengan menjadi pelatih tim U19 dan tim cadangan, dan asisten manajer tim utama. Setelah keluar dari Real Madrid, ia menjadi pelatih pada
Real Valladolid dan
Osasuna dalam jangka waktu yang singkat dan tidak dapat meraih kesuksesan.
Pada tahun 1997, Benítez berhasil membawa
Extremadura promosi ke
La Liga, namun klub tersebut terdegradasi pada musim berikutnya. Ia memilih meningggalkan klub tersebut untuk mengambil rehat sementara dari sepak bola sampai kembali menjadi pelatih
Tenerife pada tahun 2000. Pad tahun 2001, ia ditunjuk menjadi pelatih
Valencia hingga kemudian berhasil membawa Valencia gelar juara La Liga musim 2001–02 dan 2003–04 serta gelar juara
Piala UEFA 2003–04. Namun, oleh karena sebuah perselisihan dengan direktur klub, Benítez hengkang ke Inggris untuk bergabung dengan
Liverpool.
Di Liverpool, Benítez meraih kesuksesan tertinggi karier kepelatihannya dengan membawa Liverpool meraih gelar juara
Liga Champions UEFA 2004–05 dan, dalam tiga musim setelah itu, meraih beberapa gelar juara seperti
Piala FA dan
FA Community Shield. Namun, ia tidak dapat meraih gelar juara
Liga Utama Inggris dengan pencapaian terbaiknya membawa Liverpool duduk di posisi 2 klasemen akhir musim
2008–09.
Pada bulan Juni 2010, Benítez hengkang dari Liverpool dan menyetujui tawaran
Inter untuk menjadi pelatih kepala —hanya dalam beberapa hari setelah kepergiannya dari Liverpool. Namun, masa kepelatihannya berlangsung singkat, hanya dalam 6 bulan, karena sejumlah hasil buruk di
Serie A dan Liga Champions UEFA —meski ia dapat meraih gelar juara
Piala Super Italia dan
Piala Dunia Antarklub FIFA 2010.
Pada bulan November 2012, Benítez ditunjuk menjadi manajer interim
Chelsea hingga akhir musim 2012–13. Ia berhasil membawa Chelsea meraih gelar juara
Liga Eropa UEFA 2012–13.
Karier pemain
Rafa muda memulai karier pemain sepak bola di
Madrid dan bermain untuk beberapa tim sekolahan. Bakat Rafa sebagai pelatih sudah mulai terlihat sejak ia melatih tim sepak bola anak kecil saat usianya 13 tahun. Pada usia 12 tahun, Rafa bergabung dengan Real Madrid cantera. Ia lantas menunjukan prestasi progresif dan lantas naik menjadi pemain Real Madrid Aficionados di Tercera Division dan kemudian di
Castilla CF di divisi Segunda. Di bidang akademik, Rafael Benitez adalah seorang sarjana pendidikan psikologi. Ia merupakan lulusan dari Universidad Politécnica de Madrid tahun 1982.
Pada 1979 Rafa terpilih sebagai pemain dalam tim Spain Universities XI di World Student Games di Mexico City. Ia mencetak gol penalti saat pertandingan pembuka. Namun di pertandingan selanjutnya melawan
Kanada, ia terkena cedera saat ditekel oleh pemain Kanada. Cedera itulah yang menyebabkan Rafa harus pensiun dari dunia sepak bola pada tahun 1986 setelah sebelumnya sempat bermain untuk
AD Parla dan kemudian
Linares FC.
Karier kepelatihan
Tim junior Real Madrid
Pada usia 26 tahun di 1986, Rafa kembali ke
Real Madrid sebagai staf pelatih. Pada tahun 1987 ia melatih klub Castilla B, dengan klub itu ia meraih gelar tahun 1987 dan 1989. Ia memenangi gelar ketiga bersama Real Madrid B tahun 1990. Pada musim 1990-91 ia menggantikan
José Antonio Camacho sebagai pelatih Real Madrid U-19.
Musim 1992-92, Benitez bekerja sebagai asisten pelatih
Mariano Garcia Remon di Real Madrid B dan mengambil alhir posisi pelatih kepala tahun 1993-94. Lalu pada 4 September 1993, Rafa memulai debut sebagai pelatih di divisi Segunda bersama
Hércules CF. Maret 1994, ia menjadi asisten pelatih
Vicente del Bosque di Real Madrid senior sebelum akhirnya kembali ke Real Madrid B tahun 1995.
Extremadura
Rafael Benitez dikenal sebagai pelatih spesialis promosi. Ia sukses mengantar Extremadura CF promosi ke divisi utama kompetisi La Liga musim 1998, namun hanya bertahan satu musim karena klub itu kembali lagi terdegradasi ke divisi dua. Ia juga sukses mengantar Tenerife promosi ke divisi utama pada musim 2000-01
Valencia
Pada musim 2001, ia ditarik masuk sebagai pelatih
Valencia menggantikan
Hector Cuper. Banyak fans Valencia yang meragukan kualitas Rafa, maklum ia masih muda dan belum pernah memberikan prestasi bagus untuk tim yang dibesutnya. Namun fakta dilapangan berbalik dengan prediksi orang. Rafael Benitez sukses memberikan gelar La Liga (musim 2001-02 dan 2003-04) serta
Piala UEFA(musim 2003-04 saat mengalahkan
Marseille).
Liverpool
Liverpool yang sudah lama tertarik dengan pelatih
Spanyol ini, bergegas mendekati Rafa begitu mendengar hubungan antara ia dan manajemen
Valencia sedang retak diakhir musim 2003-04. Dan akhirnya jadilah Rafael Benitez terbang ke Inggris untuk menangani
The Reds.
Salah satu kendala Rafa selama berada di Inggris adalah bahasa, ia kurang fasih berbahasa
Inggris akibatnya instruksi-instruksi ia di lapangan harus diterjemahkan oleh penerjemah.
2004-05
Musim pertama berada di
Anfield, Rafa langsung mengantar Liverpool menjadi juara Liga Champions dengan menundukan AC Milan 3-3 (5-3 via adu penalti). Sebelumnya di semifinal, Rafa sukses mengantar Liverpool FC meng-KO Chelsea (yang saat itu diasuh
Jose Mourinho) dengan skor agregat 1-0. Korban Rafa lainnya adalah raksasa
Italia lain di babak 8 besar yaitu Juventus (yang saat itu dilatih
Fabio Capello).
Memang polesan Rafa tidak terlalu baik di
Liga Premier, namun begitu Liverpool main di Liga Champions segala yang tidak mungkin terjadi bisa saja terjadi.
2005-06
Musim 2005-06, Rafa sukses mengantar Liverpool menjadi juara
Piala FA. Untuk posisi kipper, pahlawan Liverpool di final LC 2005,
Jerzy Dudek terpaksa harus minggir dan digantikan bintang baru
Spanyol yang ditransfer dari
Villarreal,
Pepe Reina.
Atas prestasinya dimusim 2005-06, Rafa menjadi satu-satunya pelatih dalam sejarah Liverpool yang sukses didua musim pertamanya.
2006-07
Musim 2006-07 sekali lagi Rafa sukses mengantar Liverpool menembus final Liga Champions setelah mengalahkan Chelsea di semifinal. Dan lawan yang ia hadapi masih sama, AC Milan.
Sayang difinal, skuat Rafa kalah 2-1 oleh
AC Milan melalui dua gol
Filippo Inzaghi. Atas kekalahannya itu, Rafa memutuskan untuk merombak skuat Liverpool menghadapi musim 2007-08.
2007-08
Musim 2007-08 dilalui Rafa dengan lumayan berat. Di Liga Premier, Rafa bersama Liverpool terlambat start sehingga kembali gagal menjadi juara.
Perolehan berbeda terjadi di
Liga Champions. Entah kenapa prestasi The Reds bersama Rafael Benitez selalu hebat di Liga Champions. Walaupun sempat terancam gagal ke babak 16 besar, Rafa akhirnya mampu membangkitkan semangat anak-anak
Anfield. Salah satu korban Rafa bersama Liverpool adalah
Internazionale Milano. Selanjutnya
Arsenal juga dikalahkan oleh Liverpool dibabak delapan besar LC. Baik Inter (pelatih
Roberto Mancini) dan Arsenal (
Arsene Wenger) sama-sama dijagokan untuk meraih gelar LC musim ini.
Liverpool kemudian akan bertarung melawan
Chelsea dibabak semifinal. Ini merupakan pertemuan ketiga mereka di babak semifinal setelah sebelumnya terjadi di musim 2004-05, dan 2006-07.
Pada 3 Juni 2010 dia meninggalkan Liverpool dengan alasan ketidakcocokan gaya manajemen yang enggan memberinya dana segar untuk pemain baru. Rumor yang berkembang Benitez diisukan melatih
Inter Milan di musim depan.
Internazionale
Setelah bernegosiasi panjang di
Sardinia,
Italia, Benitez ditunjuk menjadi pelatih Inter pada 9 Juni 2010 dan secara resmi diperkenalkan pada
10 Juni 2010. Di Inter, dia menggantikan posisi
Jose Mourinho yang hijrah ke
Real Madrid. Catatan kepelatihannya di Inter tergolong labil dengan serentetan hasil buruk di Liga Champions dan Liga Italia. Inter terpuruk di posisi ke-7 klasemen sementara.
Benitez berhasil membawa pulang dua gelar dari tiga gelar yang ada di sisa 2010 sebagai periode pertamanya menangani Inter. Di pentas Piala Super Eropa,
Nerazzurri -julukan Inter- kalah 0-2
Atlético Madrid. Tapi sebelumnya Benitez berhasil membawa trofi Piala Super Italia setelah menang 3-1 atas AS Roma.
Pada 18 Desember 2010, Inter menang 3-0 atas TP Mazembe di final
Piala Dunia Antarklub FIFA 2010 yang dihelat di
Abu Dhabi,
Uni Emirat Arab. Meski begitu, rumor pemecatan atas dirinya tetap santer menyusul ungkapan provokatif yang menyatakan dia ingin dipecat atau tetap bertahan dengan syarat membeli 4-5 pemain baru pada bursa transfer Januari 2011.
Pada 23 Desember 2010 Benitez secara resmi dipecat oleh Inter dan mendapat pesangon sekitar 96 miliar. Dia hanya melatih selama enam bulan saja.
Chelsea
Pada 13 Desember 2012, Benítez lolos ke final pertamanya sebaga manajer Chelsea setelah meraih kemenangan 3–1 atas Monterrey di babak semifinal Piala Dunia Antarklub FIFA 2012.[13] Namun, ia belum mampu memberi gelar juara untuk Chelsea setelah mereka kalah 0–1 dari klub asal Brasil Corinthians pada partai final, 16 Desember 2012.[14]Pada 21 November 2012, setelah pemecatan
Roberto di Matteo,
Chelsea menunjuk Benítez sebagai manajer interim hingga akhir musim 2012–13.
[3][4] Ia kemudian diperkenalkan sebagai manajer baru
The Blues kepada publik dalam sebuah konferensi pers pada 22 November 2012.
[5][6][7] Ia juga mengumumkan penunjukan
Boudewijn Zenden sebagai asisten manajernya.
[8] Pertandingan pertama Benítez sebagai manajer Chelsea terjadi pada 25 November 2012, Chelsea ditahan imbang 0–0 oleh tamunya
Manchester City.
[9] Pada pertandingan tersebut, ia mendapat sambutan bernada permusuhan dari para pendukung Chelsea di
Stamford Bridge yang tidak setuju atas penunjukan dirinya sebagai manajer.
[10] Pada 5 Desember 2012, Benítez mencatatkan kemenangan pertamanya sebagai manajer Chelsea, sebuah kemenangan kandang 6–1 atas
FC Nordsjælland di Liga Champions UEFA 2012–13. Meski demikian, Chelsea gagal lolos dari
babak grup.
[11]Tiga hari kemudian, ia mencatatkan kemenangan liga pertamanya sebagai manajer Chelsea, setelah mengalahkan
Sunderland di
Stadium of Light dengan skor 3–1.
[12]
Napoli
Karirnya di Napoli berhasil dilalui dengan raihan gelar Coppa Italia Dan Piala Super Italia. Pada akhir musim 2014-2015 dia hijrah
Real Madrid menggantikan
Carlo Ancelotti